George Harrison meletakkan gitarnya, menatap layar studio, dan mengucapkannya dengan nada datar: “Aku selesai.” Dalam hitungan menit, sebuah panggilan telepon mengubah sejarah album yang hampir gagal tersebut — dan menempatkan Todd Rundgren di tengah badai paling kacau dalam industri musik tahun 1970-an.
Tragedi di Balik Layar Studio
Band asal Wales, Badfinger, telah menandatangani kontrak impian dengan Apple Records — label milik The Beatles. Namun di balik kemewahan itu, manajemen keuangan mereka ambruk.hutang menumpuk, tekanan mental membinasakan, dan sesi rekaman album ketiga mereka, Straight Up, berubah menjadi neraka.
Harrison, yang semula übernah sebagai produser eksekutif, akhirnya memutuskan mundur. “Sesi-sesi itu kacau balau,” kenang Rundgren dalam sebuah wawancara. “Tidak ada struktur, tidak ada arah yang jelas. George sudah kehilangan kesabarannya.”
Rundgren, yang saat itu berusia 23 tahun dan sudah dikenal sebagaiproduserjenius untuk berbagai artis, tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Ia menerima tantangan itu dengan satu syarat: kontrol penuh atas hasil akhir.
Dampak yang Mengguncang Industri Musik
Keputusan Harrison untuk mundur bukan sekadar drama personal. Straight Up menjadi album kritis bagi Badfinger — band yang seharusnya menjadi penerus legitimasiband-legendaris The Beatles. Tanpa perlindunganproduser dengan nama besar, mereka nyaris kehilangan identitas.
Rundgren bekerja marathon selama berminggu-minggu, memurnikan trek-trek yang berantakan menjadi karya yang koheren. Ia mengisi bagian gitar yang belum selesai, memperhalus vokal, dan menulis ulang aransemen yangambur. Hasilnya? Sebuah album yang menurut kritikus Rolling Stone “menunjukkan potensi luar biasa yang sebelumnya tersumbat oleh kekacauan internal.”
Namun ironisnya, album ini tidak menyelamatkan Badfinger dari kehancuran. Pada 1975, band ini pecah akibat sengketa finansial, dan dua anggota merekatragis mengakhiri hidup. Album Straight Up kini dikenang sebagai bukti bisu bagaimana talenta luar biasa bisa tersia-siakan oleh konflik di luar musik.
Kini, lebih dari 50 tahun kemudian, cerita di balik album itu terus menggema sebagai pengingat bahwa di industri musik, bahkan jenius pun bisa kewalahan oleh kekacauan yang tidak mereka kontrol.